kehilangan

FB_IMG_1436550816404

Rasanya kehilangan paling besar yang saya rasakan adalah ketika tepat dua tahun lalu , ditanggal ini papa membangunkan saya yang tertidur, untuk kemudian pamit pergi selamanya..

Kamis 11 Juli 2013 pukul 06.00 .. Ditengah sakitnya, papa membangunkan saya yang ketiduran di sebelahnya.. “Bangun .. Sudah pagi, kalian gak sahur, gak sholat subuh?” Saya dan mama terlonjak kaget. Duh, kok bisa-bisanya saya dan mama yang sedang menjaga papa sampai barengan ketiduran. Kami pun cepat cepat sholat subuh meski sudah kesiangan.

Setelah saya dan mama selesai sholat, papa lalu bilang.. “Kalian gak beres beres? Sebentar lagi ada banyak orang datang..”
Saya tanya lagi, “memangnya ada apa Pa?”
“Janji jangan nangis ya.. Sebentar lagi papa mau dijemput.. Itu semua sudah didepan..”

Campur aduk rasanya mendengar kata kata Papa. Saya langsung menangis.
Papa lalu bilang, “eeh kan sudah dibilang.. Jangan nangis..Janji, gak boleh nangis..”

Saya masih tersedu sedu, sampai kemudian berhenti menangis karena tiba tiba papa mengalihkan dengan bercerita tentang seorang anak yang berjualan mie dengan gerobak. Meskipun kekurangan, anak itu setiap hari selalu menyisihkan jualannya untuk diberikan ke orang lain yang ga punya . Naah kamu mau bahagia? Jangan ragu ragu untuk memberi..apa saja, bukan hanya uang ya, jadilah orang yang bermanfaat..begitu katanya.

Setelah itu, dipanggillah adik saya satu persatu, ya.. papa seperti sudah tahu hari itu adalah hari terakhirnya. Saya, mama dan adik adik diberi wejangan masing masing. Sambil terus terusan papa bilang ke kami.. Ga boleh nangis lho, harus ikhlas.. Janji ya..

Jam 10.00 , papa bilang.. Udah ya..papa mau tidur . saya lalu bilang, tapi nanti papa bangun lagi yaa.. Papa cuma senyum sambil dzikir.

Jam 12.00 papa bangun, sambil keheranan dia bertanya pada saya,”Qi, apa papa masih hidup ? Bingung, saya langsung menjawab cepat “ya iya dong masih hidup, kok papa gitu ngomongnya?”
Kemudian papa bergumam sendiri, lho katanya saya mau dijemput? Kok belum dijemput juga? (Kemudian berbahasa jawa yang saya kira kira artinya “Ya Allah, saya sudah ikhlas, gapapa mau dijemput sekarang juga, saya siap.. Kok masih pada di depan aja? Saya siap )
Setelah itu pakde datang dan bilang ke papa.. “Ya Har, kalau mau pamit.. Gapapa kami ikhlas”
Setelah pakde bilang begitu papa kemudian mulai bernafas satu satu.. Saya terus membisikkan La Ila Ha Illa Allah di telinganya, saya bilang juga..”pah dzikir terus di dalam hati ya..” Papa masih mengangguk.

Jam 13.00 nafas papa perlahan dari satu satu kemudian melemah dan berhenti. Senyuman terakhirnya, juga pesan terakhirnya. Ga akan pernah saya lupa. Selamanya. Alfatihah..

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim)

Advertisements

Dilangkahi ..

 

Hari ini rumah saya ramai sekali, sejak subuh. Kami bersiap pergi ke Bandung. Iya Sabtu besok ada hajatan. Bukan, bukan hajatan buat saya.

Ini acara pernikahan adik bungsu saya.

Mungkin, sebagian orang yang belum mengenal dekat akan bertanya..lho adiknya sudah nikah? Dilangkahi dong..

Ah, saya sudah dua kali dilangkahi.
Buat saya , dilangkahi atau tidak dilangkahi sama saja.

Bukan, bukan saya menghibur diri. Bukan juga saya kurang mau usaha, kurang berdoa, dan siapa bilang saya tidak galau ?

Jujur , saya tidak tahu, usaha seperti apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan jodoh itu. (Menurut saya, ini menurut saya lho ya) saya tidak pernah menutup diri, kawan pria saya juga banyak. Saya tidak judes, tidak juga bau ketek, tidak bau mulut yang akan membuat orang menjauh dari saya. Pun saya sudah pernah mencoba pacaran sejak kelas 3 SMP. Dari mulai cuma enam bulan , setahun, 3 tahun, sampai yang terakhir hampir 9 tahun putus nyambung. Tapi, mau gimana lagi dong, semuanya memang bukan jodoh saya.

Maka, kembali lagi kepada kalimat “dilangkahi atau tidak dilangkahi, buat saya sama saja”

Ya, saya sangat meyakini, dan percaya kalau Allah ga pernah salah ketika menentukan rejeki, maut dan jodoh.

Jadi, keyakinan itu juga yang membuat saya rela rela saja dilangkahi. Karena mungkin memang bukan waktu sekarang saat yang tepat buat saya bertemu dengan jodoh saya. Mungkin, memang saatnya sekarang adik adik saya dulu yang bertemu dengan jodohnya.

Dan sampai sekarang, saya masih meyakini..kalau Allah PASTI memberi saya jodoh, kalau JANJI-NYA PASTI BENAR.

Buat yang masih penasaran kenapa saya ga nikah-nikah juga, ingat ya..

Jawaban saya SAMA SEKALI BUKAN karena saya mengejar karir..(ah saya bukan tipe wanita pengejar karir, saya justru mendambakan kerja di rumah mengurus rumah tangga) ..

Jawaban saya pun SAMA SEKALI BUKAN karena saya terlalu mandiri, tidak butuh pria.. Ah, saya memang biasa melakukan semuanya sendiri, seperti angkat galon air, atau mengganti lampu yang putus. Tapiii..saya tetap butuh pria kok, saya masih butuh afeksi, saya bukan perempuan mandiri sampai sampai tidak butuh pertolongan pria, salah. Saya butuh pria, sebagai penyeimbang saya.

Jadi , please..tolong jangan menatap kasihan pada saya karena saya sudah dilangkahi dua kali. Tatapan kasihan itu jelas terlihat, terasa oleh saya.

Doakan saja, semoga saya dapat segera bertemu dengan jodoh saya ya..

Amin Ya Rabbal Alamin 🙂

salju

Dalam bahasa Jepang namanya diartikan Salju. Seperti salju pula, ia dingin. Teramat dingin.

Suatu peristiwa dalam hidupnya begitu membekas…terluka.

Salju terluka sampai  tak sedikitpun mencair ketika bertemu denganku

Entah laki-laki mana yang tega membuat Salju terluka begitu dalam.

Sembilan tahun katanya ia menunggu..

Entah kebodohan apa yang mengharuskan ia  menunggu laki-laki yang tidak pernah mencintainya itu.

Salju tahu itu..tapi entah apa pula yang membuat ia begitu setia pada cintanya….

Ah..

Padahal, jika saja Salju tahu..bahwa tak penting bersama laki-laki yang selalu menghancurkannya itu…kalau saja Salju mengerti..

Bahwa sampai kapan juga si laki-laki tak akan pernah mengerti tentang cintanya..

Kalau saja salju mau sedikit mencair..

 

Bogor 15 April 2010, 01.00  wib

#repost

rencana lain ..

Image

mungkin Tuhan memang punya rencana lain..

 

suatu ketika saya pernah berada pada situasi amat yakin jika kamu orangnya..

entah apa yang membuat saya begitu yakin jika kamu orangnya..

 

kemudian saya berdoa pada Tuhan, tetap yakinkan saya jika memang kamu orangnya..

atau berikan pertanda jika memang bukan kamu orangnya..

 

saya tidak mendapatkan pertanda apapun..

tapi suatu keadaan membuat saya semakin jauh dan menjauh darimu..

 

hilang..

 

saya kemudian berpikir, jika mungkin ini-lah pertanda yang DIA beri buat saya..

bahwa jawabannya memang bukan kamu..

 

mungkin Tuhan memang punya rencana lain buat saya..

saya harus ikhlas..

hei, itukah kamu?

Hei, itukah kamu ?

Seseorang yang pernah kukenal 13 tahun silam.

Apa kabarmu sekarang ?

 

Melihatmu, berpendar kembali kenangan masa itu..

 

Kenangan bau jaketmu yang kupaksa pinjam saat ospek.

Kenangan betapa bodohnya saat aku menabrak tiang listrik saat terpana melihatmu.

Kenangan betapa groginya aku saat kamu menyapa hingga bajuku sobek tersangkut paku.

Kenangan saat kita terpaksa dibawa berputar-putar dalam bis kampus karena salah jurusan.

Kenangan saat aku terpaksa harus ‘berani’ memegang kucing, padahal takutnya setengah mati.

 

Oh tentu. Kamu tidak tahu itu semua. Kamu tidak tahu betapa bodohnya kusimpan-simpan perasaan itu sampai 13 tahun lamanya.

 

Kamu tidak tahu, karena sejak pertama kali di hari itu aku menyimpan semuanya.

Kamu istimewa.

Ini rahasia.

Hingga tadi siang, aku hanya berani mengetik “apa kabar kamu ?”

Terkirim!

Ketika bersamamu lebih dari lima menit

Masih terekam jelas jejakmu dalam ingatanku, kala kita pertama kali duduk bersama lebih dari lima menit..

Ketika itu seorang teman bertanya :

“Jika kamu dibei kesempatan untuk keluar negeri, kemana kamu akan pergi ?”

“aku akan ke Wina Austria. aku ingin melihat piano Mozart” jawabmu

sejak itu, sejak jawaban itu meluncur dari mulutmu. aku tau. kamu berbeda.

Masih terekam jelas jejakmu dalam ingatanku, kala kita pertama kali makan bersama di kantin kosan lebih dari lima menit..

Ketika itu masih pagi , dan bibi kantin hanya punya pisang goreng.

Kamu mengambil sepiring nasi, lalu mengambil pisang goreng sebagai lauknya.

“aku suka nasi dengan pisang goreng” jawabmu santai atas pandangan mataku yang heran.

sejak itu, sejak kau taruh pisang di atas nasi. aku tau. kamu berbeda.

Masih terekam jelas dalam ingatanku kala kita pertama kali jalan-jalan bersama lebih dari lima menit..

Hari itu kita pergi ke Cihideung Lembang. Menempuh perjalanan jauh Jatinangor – Lembang untuk membeli tanaman.

“aku suka tanaman. Aku suka aglonema. Aku suka mawar hitam” 

sejak itu, sejak kau bilang kau suka tanaman. aku tau. kamu berbeda.

Masih terekam jelas dalam ingatanku.. bando yang sering kamu pakai..”ini bando ibuku, aku sayang padanya”, masih terekam jelas nama-nama kucing kesayanganmu di kosan..“ayam, sapi, wortel”..

masih terekam jelas. karena aku tau kamu berbeda.

tentang kehilangan ..

Beberapa bulan ini, kehilangan mengajarkan saya banyak hal. Ya, banyak hal. Ia menempa dengan berbagai kesulitan ,menguji dengan rasa sakit, kemudian mengajarkan bagaimana berkorban , ikhlas, dan juga bagaimana bersyukur. 

Sulit . Berat . 

Tapi saya percaya pasti bisa, pasti bisa..

“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.

QS: AL AN KABUT 2- 3